Jelajah: Legenda Kawah Sikidang dan Asal-usul Anak Gimbal

Apakah kamu tau legenda mengenai anak gimbal? Ituloh, seorang anak yang memiliki ciri khas pada rambutnya -gimbal, susah di sisir. Tapi, bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Apakah terjadi secara turun temurun? Gen? Dan mengapa harus dilakukan ruwatan?

Kawah Sikidang yang terletak di Desa Dieng Kulon, Banjarnegara, Jawa Tengah, terbentuk akibat letusan gunung prahu purba ratusan tahun yang lalu. Meskipun letusan tersebut sudah lama sekali, namun hingga hari ini, saat saya menulis postingan ini, aktivitas vulkanik di kawasan tersebut masih ada. Menyisakan sebuah kawah yang bernama kawah sikidang atau si kijang.

Bukan tanpa alasan mengapa kawah ini dinamakan si kijang, terdapat cerita rakyat yang melegenda di masyarakat Dieng, khususnya berkaitan dengan anak-anak gimbal atau gembel.

Kawah Sikidang merupakan tempat wisata pertama yang kami kunjungi ketika tiba di Dataran Tinggi Dieng. Belum menyentuh homestay, belum mandi dan ganti baju dari Jakarta, tapi it’s okay. Kami sudah sampai di Dieng dan bahagia!

Pertama kali memasuki kawasan Banjarnegara, mata kami sudah dimanjakan dengan pemandangan persawahan dengan metode terasering. Banyak tanaman kubis di kiri dan kanan. Langit yang begitu biru dan bersih seperti laut yang membentang. Sesampainya di kawasan Dieng, tour guide langsung memberhentikan bus elf yang kami tumpangi di sebuah rumah makan bernama Kedai Ongklok. Kalau di Jakarta, seperti Upnormal mungkin ya. Kedai Ongklok, seperti namanya menjual makanan khas daerah Dieng yaitu Mie Ongklok. Rasanya bahkan masih bisa saya ingat hingga saat ini. Kuah kental yang berasal dari tepung sagu, dicampur dengan rempah lada yang terasa pedas dan hangat sangat cocok untuk dinikmati saat berkunjung ke Dieng yang dingin. Ditambah dengan kucai sejenis daun bawang kecil (kalau kata mamiku tersayang), kemudian mie ongklok tersebut juga dilengkapi dengan sayur kubis yang sangat segar (beneran deh, baru kali itu saya menikmati makan sayur kubis yang segerrrr abis) plus ditambah hidangan 3 tusuk sate sapi/ayam/kambing (bisa pilih jenis satenya ya guys). Cuma dengan harga 18ribu kalian sudah bisa menikmati makanan khas Dieng tersebut: Mie Ongklok. Oh, kedai Ongklok juga menyediakan minuman carica khas Dieng!

Setelah sarapan pagi dengan mie ongklok, rombongan kami langsung caw ke Kawah Sikidang. By the way, jangan lupa membawa masker ya kalau ke Dieng, itu sangat berguna: 1) agar tetap hangat dan aman dari bakteri yang bisa menular lewat udara; 2) untuk menghindari debu dan bau belerang yang pekat di kawah sikidang.

Sesampainya di Kawah Sikidang, para tour guide memberikan briefing terlebih dahulu, dengan menganjurkan untuk berjalan berhati-hati. Karena di kawasan tersebut, banyak sekali kawah-kawah kecil yang masih aktif namun tidak nampak. Jadi, jangan sampai menginjak kawah-kawah kecil tersebut. Untuk masuk ke Kawah Sikidang, kalian cukup merogoh kocek 10ribu dan kawasan ini dibuka untuk wisatawan dari Pukul 07.00 – 16.00 WIB.

Legenda yang menarik yang menyelimuti kawah sikidang atau si kijang adalah romansa antara putri Shinto Dewi & pangerang Kidang Garungan. Apakah kalian pernah mendengar cerita tersebut?

Cerita dimulai dari kecantikan putri Shinto Dewi yang masyur, tiada tara. Banyak pangeran yang hendak meminangnya untuk dijadikan istri. Namun, tidak ada yang berhasil. Sebab, putri Shinto Dewi selalu mensyaratkan mas kawin atau mahar yang mahal pula dan tidak ada yang sanggup.

Suatu hari, datanglah utusan dari seorang pangeran bernama Kidang Garungan ke Dataran Tinggi Dieng untuk melamar sang putri dan memberitahu perintah sang pangeran: “berapapun mas kawin yang putri inginkan, akan disanggupi oleh pangeran Kidang Garungan.” menanggapi hal tersebut, sang putri berpikir “pastilah pangeran ini seorang yang kaya raya, tampan, dan berwibawa. Jika tidak, manamungkin berani melamarnya”.

Saat hari H pernikahan tiba, itulah saat sang putri pertama kali melihat calon suaminya yang ternyata berkepala KIJANG….. sang putri panik bukan main, dia mencari siasat agar dapat membatalkan pernikahannya. Dia tidak ingin menikah dengan pria berkepala Kijang. Sebentar, ini mirip kisah Beauty and The Beast, right? versi Dataran Tinggi Dieng. Sang putri mensyaratkan satu hal lagi kepada pangeran Kijang Garungan, yaitu untuk membuat sumur dalam semalam dan hanya boleh dikerjakan oleh pangeran Kijang Garungan seorang diri. Melihat tantangan tersebut, pangeran menyanggupi hal tersebut.

Ketika pangeran Kijang Garungan sedang menggali dan hampir selesai, pasukan sang putri segera mengguruk tanah di sekitarnya agar sang pangeran terkubur hidup-hidup dalam sumur buatannya sendiri (jahat sekali). Melihat tanah yang longsong, pangeran panik dan mengeluarkan segala kemampuannya sehingga menimbulkan ledakan-ledakan untuk membuat celah agar dapat keluar dari sumur yang digalinya. Saat sang pangeran hampir berhasil keluar dari sumur tersebut, pasukan putri Shinto Dewi kembali menimbunnya dengan tanah sehingga pangeran Kijang Garungan terkubur hidup-hidup dalam sumur tersebut. Namun, sebelum sang pangeran meninggal, beliau sempat mengatakan sumpah serapahnya, yakni: “kelak semua keturunan Putri Shinto Dewi di Dataran Tinggi Dieng ini akan memiliki rambut gembel!”

Sumur yang meledak itu kemudian lama-kelamaan menjadi sebuah kawah yang hari ini dinamakan Kawah Sikidang atau Si Kijang. Menarik sekali ya legendanya. Hingga saat ini, anak-anak gimbal dipercaya sebagai keturunan Putri Shinto Dewi yang mendapat kutukan dari Pangeran Kidang Garungan. Sehingga anak tersebut harus di ruwat dengan cara memotong rambut gimbalnya. Berikut foto-foto saat kami ada di Kawah Sikidang.

Ngomong-ngomong soal anak yang mempunyai rambut gimbal. Saya tidak sempat berfoto dengan mereka saat acara Dieng Culture Festival 2019 kemarin. Lagipula, takut juga ya anak kecilnya ada strangers minta foto haha. Peruwatan rambut gimbal pada DCF disaksikan oleh seluruh peserta DCF 2019 dari daerah-daerah di Indonesia maupun turis mancanegara. Sebelum ruwatan dilakukan, permintaan sang anak harus di turuti sebesar apapun itu. Kemarin, saat DCF 2019, ada anak gimbal yang meminta es krim berwarna coklat, semangkok bakso, uang sebesar 2 juta rupiah, dua ekor kambing, hingga hand phone. Ya… kalau saya yang jadi anak gimbal sih minta bakso dan pabriknya, minta es krim dan pabriknya. Terus jualan deh. Heeee aku jadi anak yang kaya raya serta terkenal. LOL. Biar kayak di film Charlie and The Chocolate Factory. Keren kayaknya. Ohiya, permintaan dari anak gimbal ini harus dipenuhi ya oleh orang tuanya atau ada syarat-syarat adat apabila sang orang tua tidak mampu. Sebab jika permintaan sang anak tidak dipenuhi, rambut gimbalnya akan tumbuh lagi guys.

Asyik ya belajar legenda sambil berwisata ke Kawah Sikidang? Segera diagendakan ya! Oh ya, di depan Kawah Sikidang ini (dekat dengan parkiran bus) terdapat tukang kentang goreng dan jamur goreng crispy yang sangat enak. Kentangnya empuk, tidak keras, dan enak. Saya tidak menemukan kentang goreng terlezat setelah membeli kentang di sini. Menurut saya, kalau kalian mau beli oleh-oleh carica juga sebaiknya di sini saja. Asal bisa nawar, pasti dikasih murah. Selain itu, kemarin saya juga membeli bunga Edelweiss yang disebut juga dengan bunga keabadian karena tidak pernah kering. Harganya murah karena dengan 10ribu dapat satu ikat bunga Edeilweiss, kalau beli dua ikat dapat harga 15ribu. Ya mending beli dua ikat lah sekalian. Kapan lagi bisa beli bunga Edelweiss dan tidak metik di pegunungan? Hehe. Bunga Edelweiss yang diperjual belikan di pasar oleh-oleh itu dibudidayakan yaaa, bukan bunga liar terus diambil dan dijual.

Di Kawasan Sikidang ini juga disediakan tempat foto-foto aesthetic hanya dengan membayar Rp5.000 – Rp15.000 kamu sudah bisa foto dengan burung hantu, foto di atas mobil jeep, foto dengan background I Love Dieng, dan lainnya.

Legenda dan asal-usul anak Gimbal ternyata seru juga ya. Apakah diantara kalian ada yang pernah berkenalan dengan anak gimbal?

Jelajah: Telaga Warna dan 4 Goa Keramat disekitarnya!

Konon katanya, telaga warna tercipta karena mata air yang muncul secara tiba-tiba akibat air mata penduduk suatu kerajaan yang menangis melihat hadiah kalung permata warna-warni mereka di lempar begitu saja oleh seorang putri kerajaan yang sangat sombong. Benarkah begitu? Entahlah, itu adalah sebuah cerita rakyat yang secara turun-temurun ada dalam kepercayaan masyarakat Dieng. Yang pasti, disebut Telaga Warna karena air di telaga tersebut akan berwarna hijau, kuning atau bahkan warna-warni jika terkena matahari. Hal tersebut diakibatkan karena pengaruh endapan sulfur yang cukup tinggi di dasar telaga warna.

Telaga warna menjadi destinasi wisata yang tidak boleh Anda lewatkan apabila Anda berkunjung ke Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Anda tidak hanya akan menemui cantiknya telaga warna terhampar di hadapan Anda. Tapi juga akan disuguhkan dengan hamparan rumput hijau seperti padang sabana yang membentang di samping kiri dan kanan jembatan, goa-goa keramat yang tersebar di sekitar Telaga Warna, serta pepohonan dan bunga-bunga lebat yang menemani perjalanan Anda dari pintu masuk ke kawasan Telaga Warna hingga destinasi akhir dari Telaga Warna yang saya kunjungiPesanggrahan Bumi Pertolo, Nini Dewi Cundo Manik. Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp6.000, Anda sudah dapat berkelana dan mengabadikan momen-momen spesial.

Pertama kali saya masuk ke kawasan wisata, mata sudah di suguhkan dengan pemandangan hijau dari pepohonan dan bunga-bunga yang saya tidak tahu namanya, tapi cantik. Kemudian, saya melanjutkan perjalanan dengan melihat peta kayu yang berdiri tegak seperti papan dan mendeskripisikan secara jelas di mana kita sedang berada saat itu, dan wisata apa saja yang terdapat dalam kawasan tersebut. Berikut gambarnya:

Oh sayang sekali, saya baru sadar melewatkan beberapa destinasi karena kehabisan waktu setelah melihat foto yang saya potret di atas. Good. Lanjut! Berikut tempat-tempat yang saya kunjungi!

BATU TULIS & PATUNG PATIH GADJAH MADA

Seperti gambarnya, wisata batu tulis berbentuk bongkahan besar batu tulis purba pada jamannya, yang dapat digunakan untuk menulis. Batu tulis berada di antara telaga warna dan telaga pengilon. Mitosnya, seorang anak yang belum bisa membaca akan bisa membaca dalam waktu cepat jika berdoa kepada yang Maha Kuasa di tempat batu tulis ini. Jadi, Pak, Bu, jika punya putra-putri yang belum bisa membaca dan menulis ajak main ke sini deh sekalian belajar sejarah. Coba-coba gak ada salahnya, kan? Tetap berdoa kepada Tuhan YME ya!

GOA JARAN – RESI KENDALISETU

Goa jaran ini memiliki mitos yang sangat unik, guys! Bahkan para perawan yang ke sini harus menjaga sikap. Untung saya cuma foto-foto saja ya dari luar, entah kenapa memutuskan untuk tidak masuk ke dalam. Meski teman saya sangat penasaran ingin masuk ke goa tersebut. Menurut saya, suananya agak mistis dan sekelebat saya melihat penampakan seorang resi (apakah cuma khayalan?) bahkan di depan goa tersebut masih diberikan bunga mawar segar dan hio yang menyala. Sumber dari wisatawan lain mengatakan bahwa di dalam goa jaran ini luas hingga terdapat stalagtit dan stalagmitnya, loh. By the way, goa jaran ini memiliki juru kunci ya, jadi Anda tidak boleh sembarangan memasuki goa ini, apalagi ada beberapa peraturan yang harus di taati bagi perawan yang berkunjung ke goa ini.

Kok bisa sih perawan harus hati-hati? Jadi mitosnya begini, jaman dulu, ada seorang resi yang bernama kendalisetu yang menaiki seekor kuda perempuan. Karena hujan, berteduhlah (mungkin juga bertapa) beliau di goa tersebut beserta kudanya. Namun, saat pagi hari datang, resi tersebut mendapati bahwa kudanya tengah hamil. Ajaib, kan? Lalu mitos beredar menjadi goa tersebut dapat mendatangkan kesuburan bagi perempuan-perempuan yang sulit mendapat keturunan. Tapi ingat guys, tetap memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa ya! Mungkin karena hal tersebut, di depan goa jaran ini, terdapat patung perempuan yang membawa bunga.

GOA SUMUR – EYANG KUMALASARI

Tidak sembarang orang bisa masuk ke Goa Sumur ini. Jika ingin masuk ke goa sumur ini, harus meminta ijin dulu dengan guru kuncinya. Sebab, di dalam goa sumur ini, terdapat sumber air yang sejuk dan dingin yang konon katanya dapat menyembuhkan segala penyakit dan dapat mempercantik kulit. Sumber air tersebut disebut sebagai Tirta Prawitasari yang konon katanya dijaga oleh Eyang Kumalasari.

Banyak sekali para peziarah yang tidak akan melewatkan goa ini untuk sekedar mampir mengambil airnya, bahkan orang-orang Bali rela berkunjung jauh-jauh ke Dieng untuk mengambil air suci ini untuk digunakan dalam upacara Muspe atau Mabakti. Tuah dari air tersebutlah yang membuat mata air ini begitu dijaga kesuciannya. Tertarik untuk mencoba air Tirta Prawitasari ini? Yuk main ke Dieng!

GOA PENGANTIN & JEMBATAN GANTUNG

Tidak jauh dari goa sumur, terdapat goa pengantin, entah mitos apa yang meliputi goa ini. Mungkin bagi para muda-mudi yang jomblo bisa mendapatkan pasangan kali ya. Saya sih cuma foto goa nya aja dari depan. Karena jodoh itu akan selalu datang tepat waktu, dan waktu-waktu umur sekarang belum tepat bagi saya. Masih muda cuy! Masih mau lanjut S2 dulu. Saat ke sana, ada rombongan keluarga yang melihat goa pengantin tersebut, dan bercanda dengan mengatakan “ini mah buat yang jomblo-jomblo ke sini, yang udah tua gausah”.

2 meter dari goa pengantin, ada sebuah jembatan gantung yang apabila ingin berfoto di situ harus antri guys! dan buat yang foto-foto jangan lupa diri ya, banyak yang antri! haha. Nah, untuk goa berikutnya, ini paling kerasa sih aura mistisnya.

GOA SEMAR: TEMPAT BERTAPA PRESIDEN SOEKARNO & SOEHARTO

Tidak jauh dari jembatan gantung yang kami kunjungi, terdapat tangga berundak ke atas. Saya kepo sekali menaiki satu per satu tangga itu. Entah apa yang ada di sana, dan kemudian….. Taraaaa Goa Semar yang sangat terkenal dengan tokoh “semarnya” dalam pewayangan Jawa.

Sekali lagi guys, tidak semua orang boleh ke goa ini. Goa semar memiliki sejarah yang amat sangat epik jika dibandingkan dengan goa-goa sebelumnya. Bagaimana tidak? Goa Semar merupakan petilasan purba, tempat bertapa para Raja Jawa dan Pemimpin Indonesia seperti Presiden Soekarno & Soeharto. Goa semar ini dikunjungi sebagai salah satu rangka menghormati tradisi leluhur Jawa. Jadi, sebagai anak Jawa, saya bangga bisa ke sini tanpa menduga sebelumnya akan ke sini. So proud!

Memangnya, semar itu siapa sih? Kenapa sangat terkenal sekali dalam legenda Jawa? Hmm, jika ngomongin tokoh yang satu ini, panjang guys, kalian harus baca sejarah kerajaan Demak – Majapahit. Menurut tulisan yang terdapat di batu di depan goa semar, tokoh Semar bagi para pujangga Jawa digambarkan sebagai nenek moyang pendiri dan pengawal utama pulau Jawa. Dalam keseharian, tokoh Semar digambarkan sebagai tokoh yang arif, bijaksana, sopan, tidak sombong, rendah hati, berani, percaya diri, membenci ketidak adilan, mengawal kebenaran, dan melayani tanpa pamrih. Bahkan Falsafah Semar mengajarkan para ksatria (pemimpin) untuk mendengarkan suara rakyat kecil sebagai suara Tuhan. Keren sekali kan falsafah semar ini?

Pesanggrahan Bumi Pertolo: Nini Dewi Cundo Manik

Bolehkah saya menjadi tokoh Alice in wonderland sejenak kali ini? Karena sungguh, tempat ini sangat indah. Penuh bunga pancawarna yang berwarna putih. Oh, I really want those flowers on my wedding day. Bunga pancawarna tuh mahkota bunganya mirip sayap kupu-kupu. Cantik banget.

by the way, saya tidak terlalu mengerti sejarah tempat ini. Konon mitosnya, pesanggrahan ini terkenal sebagai tempat pesugihan bagi orang-orang yang menginginkan kekayaan dan kesuksesan, sebagai gantinya, anak dari orang yang melakukan pesugihan tersebut sebagai tumbalnya. Serem ya? Ingat, anak itu adalah titipan Tuhan guys, bukan aset agar kamu bisa kaya atau sukses di kemudian hari.

Di tempat ini juga, dilakukan proses larung hasil pemotongan rambut anak-anak gimbal, loh. Di akhir cerita wisata kali ini, saya ingin menunjukkan sebuah jembatan yang menghubungkan antara telaga warna dan telaga pengilon, di mana di samping kiri dan kanan jembatan tersebut tumbuh indah rumput-rumput bak sabana. Tempat ini cocok kalau mau foto pre-wedding loh. Yuk di simak!

Nah, gimana? Makin tertarik kan berkunjung ke Dieng? Segera di agendakan ya! Selamat berlibur!

Bukit Sikunir: Menilik Golden Sunrise Paling Epik!

3 Agustus 2019 – 2.306 MDPL

Nama Dieng sudah tidak asing lagi bagi para wisatawan, selain keindahan alamnya yang mempesona, Dieng juga menyimpan cerita sejarah yang sangat menarik mengenai Dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno. Potret di atas merupakan foto golden sunrise yang saya ambil tepatnya pada pukul 06.00 pagi kurang 7 menit. Satu kata untuk pemandangan yang saya lihat waktu itu; EPIK!

“Beautiful Scenery comes from the highest place”

Puncak sikunir merupakan destinasi wisata favorit bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Dataran Tinggi Dieng. Terletak di Desa Sembungan –yang merupakan desa tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 2.306 MDPL, Wonosobo, Jawa Tengah.

Pengorbanan untuk berlelah-lelah saat harus berjalan sekitar 2 kilometer dari parkiran bis jenis elf (yang mengangkut rombongan wisata kami) untuk sampai di pos pendakian bukit sikunir. Tapi, tenang aja, sebenarnya kalau mau ada tukang-tukang ojek berompi merah, kok. Mereka menawarkan jasanya dengan hanya 15ribu bonceng dua orang atau 10ribu sendiri untuk sampai ke pos pendakian bukit sikunir. Tapi percayalah, berjalan bersama teman-teman sangat seru. Begitu juga saat perjalanan pulangnya. Kemudian perjalanan di lanjutkan dengan mendaki puncak sikunir yang terdiri dari 280an anak tangga yang harus di daki……. (ini gue denger dari celotehan ibu-ibu yang serajin itu ngitung berapa anak tangga yang dia pijak) LOL.

Bukan cuma itu, kami harus bangun dan bersiap dari pukul 02.00 AM yang dinginnya saat itu di bawah 10 derajat celcius. Tapi, worth it. Pengorbanan yang begitu besar, terbayar sudah ketika melihat cantiknya sang Raja langit alias Matahari yang pelan-pelan terbit dari timur, alias di depan mata saya dongg! Seperti gambar di bawah ini:

Pergi ke Dieng enaknya waktu lagi musim kemarau, sekitar bulan Juli sampai Agustus. Kalau kalian beruntung, kalian bisa melihat rumput dieng membeku! by the way, jangan lupa bawa baju hangat ya kalau ke Dieng apalagi pas mendaki ke puncak sikunir! Please don’t forget to bring those things with you: Kupluk, Sarung Tangan, Sepatu Olahraga, Jaket tebal. Harus bawa sepatu olahraga, karena… mendaki bukit sikunir cukup terjal, samping kiri hampir tidak ada pegangan cuma ada pegangan di beberapa titik jadi kalau tergelincir dan jatuh…… ya jatuh ke jurang.

By the way, sewaktu mendaki, tidak harus selalu mendaki kok, tapi bisa berhenti sejenak kalau lelah (jangan lupa bawa air mineral, guys!) di pinggir-pinggir dinding, jangan sampai menganggu wisatawan lain yang sedang mendaki intinya. Kasihannya, entah ada yang pingsan atau kesurupan, kayaknya sih pingsan ya karena gakuat nanjaknya, dia sampai digotong dengan tandu ke bawah. Tidak direkomendasikan bagi orang-orang yang memiliki riwayat penyakit asma, tidak kuat berjalan jauh. Jadi, pastikan kalian dalam keadaan sehat atau minimal punya kepercayaan diri untuk gue pasti sampai di puncak sikunir dengan selamat! ya karena ada anak kecil (berusia 7 atau 8 tahun) yang berhasil sampai di atas puncak sikunir, guys! Keren banget dia (menginspirasi diriku buat ngajak calon anak di masa depan ke situ juga wkwk) kata-kata ajaib mamanya yang gue denger adalah: “Ayo mas, itu kakak udah sampai loh di atas. Yuk-yuk dikit lagi” dan adeknya lanjut lagi padahal dia udah mau nangis itu, ngeluh capek. Padahal mah itu baru setengah perjalanan, dek. Kamu di tipu sama mamamu HAHAHA. Gara-gara adik itu, gue jd nanya sama tour guide -entah siapa yang tiba-tiba dia menyapa sampe meler ya mbak (melihat diriku ngelap ingus). “Masih lumayanlah, mbak” jawabnya, dan emang benerrrr masih lama banget gue sampai di atas puncak sikunir donggg. Sampai terus-terusan bertanya dalam hati, anjir ini kapan sampenya? tapi masa mau nyerah di tengah jalan sih? ga dapet apa-apa dong!!

Setelah 3 jam melewati proses menanti dan menikmati golden sunrise yang sangat epik itu. Juga setelah potret sana-sini pemandangan alam yang begitu ciamik, kami memutuskan untuk turun ke bawah, dan pemandangan alamnya tidak kalah bagus dengan melihat si raja langit itu.

Kiri kanan, ku lihat semua, banyak pohon cemara~

Bunga-bunga alami yang menempel di pinggir dinding bukit. Ranting-ranting pohon yang menjuntai -memperindah pemandangan langit pagi yang kami lihat. Setelah sampai di bawah, kami langsung disambut dengan pedagang-pedagang yang menjajakan jajanannya. Sebenarnya mereka sudah ada di sana sejak kami naik tadi pagi, sih (mereka datang jam berapa ya?). Ada yang menjajakan kentang goreng, tempe kemul -tempe dengan potongan bulat lalu di tutup dengan tepung terigu dan di goreng, rasanya gurih, tidak seperti tempe mendoan dan akan sangat enak kalau di nikmati saat masih hangat hehe. Selain itu, ada juga yang menjual mie gulung, telur gulung, cilok, manisan carica untuk oleh-oleh, sosis bakar, dan….. kentang bulat mini yang diracik dengan gula merah dan dijual dengan harga 5ribu saja satu mangkok plastik kecil, rasanya enakkk! kentangnya kenyal! makanan yang pas setelah cape mendaki puncak sikunir.

Pedagang lainnya ada yang menjual kupluk, topi bentuk hewan, syal, sarung tangan, cindera mata seperti gantungan kunci, gelang, kalung, cangkir dengan gambar dieng, mangkok, ya masih banyak lagi keindahan yang kami nikmati.

Perjalanan menuju parkiran bis elf kami lewati dengan melihat hijaunya pemandangan bukit dan pertanian di samping kiri dan kanan. Oh juga ada Telaga Cebong dan beberapa tenda untuk camping yang saya lihat (berandai-andai untuk bisa camping juga di depan sebuah Telaga, eh tapi pasti dingin banget kan).

Salam hangat dari kita bertiga yang pengen ke sana lagi! Tapi ya, gue pikir, ke sana tuh enaknya sebelum atau sesudah acara Dieng Culture Festival kalau emang mau cari foto yang bagus. Karena pas acara DCF itu berjubel penuh wisatawan ga cuma dari Jakarta aja sis, tapi bule-bule juga dateng. Buat DCF tahun 2019 ini, dikutip dari travel.kompas.com ada sekitar 177.000 wisatawan yang dateng. Kebayang kan puncak sikunir penuhnya kayak apa? hehe.

Nanti aku share pengalaman ikut Jazz atas Awan dengan bintang tamunya: Payung Teduh dan Isyana, ya!

Bestfriend goal!

Thank you for read!